Pernyataan Sikap GMKI Terhadap Kawin Tangkap di Sumba -->
POPULER

Pernyataan Sikap GMKI Terhadap Kawin Tangkap di Sumba

Sabtu, 27 Juni 2020, 16.55.00 WIB
PEMBACA ONLINE Free website counter

PERNYATAAN SIKAP TERHADAP KAWIN TANGKAP DI SUMBA 


Waingapu - globalinvestigasinews.Com

Melihat situasi saat ini yang cukup menghebohkan publik melalui media sosial dengan beredarnya video kawin tangkap yang terjadi di pulau sumba.Berdasarkan Data yang dihimpun oleh GMKI Cabang Waingapu tentang kasus kawin tangkap per 11 Desember 2009 terdapat 20 kasus, Tahun 2013 terdapat 1 kasus, tahun 2016 terdapat 1 kasus dan tahun 2019 terdapat 2 kasus. Kemudian di tahun 2020 kembali dihebohkan dengan 2 kasus yakni pada 16 Juni 2020 
dan 23 Juni 2020 di Desa Dameka, Kecamatan Katiku Tana selatan, Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur.

Kawin tangkap merupakan tindakan kekerasan atau pemaksaan terhadap perempuan yang tidak manusiawi. Kawin Tangkap juga menyebabkan ketakutan, ganguan psikologis dan psikis pada Perempuan karena bersifat memaksa dan membatasi kebebasan perempuan.Banyak pihak yang mengatakan bahwa kawin tangkap seolah-olah merupakan budaya 
sumba, namun sebenarnya ini adalah kebiasaan buruk yang berulang-ulang terjadi sehingga seolah-olah ini adalah budaya. 

Pada Prinsipnya budaya adalah muatan nilai-nilai, moral, etika dan norma-norma sosial yang dapat melahirkan bentuk-bentuk penghargaan akan harkat dan martabat sesama manusia tanpa memandang gender (jenis kelamin), suku, agama, ras dan lain-lain. Oleh karena itu, sebagai warga negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai pancasila sudah seharusnya kita mengimplementasikan nilai-nilai budaya yang memperhatikan kesetaraan, keadilan dan keutuhan antara sesama ciptaan. 

Merujuk pada bentuk kawin tangkap sesungguhnya sudah melanggar nilai-nilai pancasila sebab kawin tangkap atau kawin paksa adalah salah satu bentuk kekerasan seksual sebagaimana tertuang dalam RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Dalam Pasal 11 ayat (2) disebutkan bentuk-bentuk kekerasan seksual terdiri dari pelecehan seksual, eksploitasi seksual, pemaksaan kontrasepsi, pemaksaan aborsi, perkosaan, pemaksaan perkawinan, pemaksaan pelacuran, perbudakan seksual dan atau penyiksaan seksual. Kemudian pada pasal 17 RUU tentang Penghapusan Kekerasan seksual dimana pemaksaan Perkawinan sebagaimana dimaksud dalam pasal 11 RUU ayat (2) huruf g adalah kekerasan seksual yang dilakukan dalam bentuk menyalahgunakan kekuasaan dengan kekerasan, ancaman kekerasan, tipu muslihat, rangkaian kebohongan, atau tekanan psikis lainnya sehingga seorang tidak dapat memberikan persetujuan yang sesungguhnya untuk melakukan perkawinan.

Sejatinya Perkawinan Berdasarkan Pasal 1 ayat (1) UU Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan . Bahwa Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (Rumah Tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Kemudian pada pasal 2 ayat (1), menerangkan bahwa Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu.

Berdasarkan keyakinan kristiani bahwa peristiwa kawin tangkap atau kawin paksa tidak dapat dibenarkan karena merusak citra Allah seperti tertuang dalam dua nats yakni Kejadian 1:27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, Menurut gambar Alldiciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Dan kejadian 2: 23 Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tuluangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia di ambil dari laki-laki.”
Berbicara Mengenai Kesetaraan. Dimana ada dua insan yang saling melengkapi. 

Jika
dibaratkan lak-laki menjadi kepala dan perempuan menjadi mahkotanya. Kedua ini berarti dengan hadirnya perempuan yaitu untuk laki-laki dalam hal ini laki-laki terpancar kehormatannya ketika ia mengunaka mahkota ittu.Begitupun dengan perempuan sebagai mahkota dia tidak berguna apabila mahkota itu hanya disimpan dan tidak di kenakan pada kepala. 

Dalam hal ini identtitas perempuan akan tampak ketika berkolaborasi dengan laki-laki sehingga keduanya memiliki kehormatan yang tinggi. Pada kejadian 1 : 27 di tekankan bahwa Allah menciptakan laki-laki dan perempuan menurut gambarnya. Hal ini menunjukkan bahwa laki-laki daan perempuan di mata Allah sama. kemudian pada kejadian 2: 23 dijelaskan bahwa perempuan itu dari laki-laki perempuan ada unuk laki-laki, sehingga laki-laki harus menghormati perempuan dan begitu pun sebaliknya. jadi dikaitkan dengan kejadian kawin tangkap ini bukti tindakan ketdakadilan dan tidak saling menghormati, keadaan terjadi pergeseran maksud Allah. Allah mau sebenarnya ksetaraan, tapi malah laki-laki tidak menghormti perempuan, kondisi ini sebenarnya curang karena hanya ingin memuaskan hasrat laki-laki dengan memperdaya perempuan.

Berdasarkan persoalan ini, maka GMKI Cabang Waingapu bersikap: 
1. Menolak dan mengutuk keras Aksi kawin Tangkap karena merupakan bentuk kejahatan Seksual terhadap Perempuan yang bersifat memaksa dan merampas Hak Asasi Manusia.

2. Mendesak Pemerintah Daerah dan DPRD untuk secepatnya membuat PERDA tentang Penghapusan Kebiasaan Kawin Tangkap di Sumba sebagai bentuk Keberpihakan Negara dalam melindungi dan menjamin Hak Asasi Manusia 
yakni Menghormati harkat dan martabat Perempuan. 

3. Mendorong Gereja untuk terus mengedukasi warga jemaat dalam melaksanakan kegiatan adat atau kebudayaan untuk menyesuaikan dengan Tata Gereja dalam bentuk Pemberantasan kejahatan kebudayaan seperti Kasus Kawin Tangkap tersebut.

4. Mendorong seluruh tokoh-tokoh adat se-Sumba untuk menolak beberapa tata cara perkawinan yang bertentangan dengan Hak Asasi Manusia serta ajaran-ajaran agama.

5. Mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama memutus perilaku Kawin Tangkap yang dapat menimbulkan ganguan keamanan dan ketertiban.

6. GMKI Cabang Waingapu akan mengawal secara serius kasus ini hingga mendapatkan titik terang terhadap penyelesaiannya.

Demikian Pernyataan sikap ini kami sampaikan sebagai bentuk Perlawanan dan GMKI Cabang Waingapu juga mengingatkan bahwa tindakan Kawin Tangkap adalah tindakan tidak manusiawi yang harus kita tuntaskan bersama.Diperlukan kerja sama antar semua Lembaga Negara, Lembaga Pemerintahan, Lembaga Agama,Sekolah/Perguruan Tinggi, Organisasi Masyarakat, Organisasi Mahasiswa dan seluruh Masyarakat untuk Mengatasi Kasus Kawin Tangkap yang terjadi di Sumba.

Teriring salam dan doa tulus Ut Omnes Unum Sint 
BADAN PENGURUS CABANG GERAKAN MAHASISWA KRISTEN INDONESIA-WAINGAPU MASA BAKTI 2020– 2022

-Diki Warandoi, SE 
Ketua 
-Marthinus Luta Lapu
Sekretaris

TerPopuler