Fakta Baru Dugaan Mafia Migas Bermain Dengan LPG Bersubsidi Di Merangin -->

Iklan Semua Halaman

Fakta Baru Dugaan Mafia Migas Bermain Dengan LPG Bersubsidi Di Merangin

Admin
Jumat, 13 November 2020


Fakta Baru Dugaan Mafia Migas Bermain Dengan LPG Bersubsidi Di Merangin

Deny LPKNl ;
Harus di berikan sangsi, tidak semua pangkalan berbuat curang, Koperindag dan Agen harus terbuka 

Merangin, 12/11/2020 Globalinvestigasinews.co.id

Permasalahan kelangkaan dan mahalnya gas LPG 3 kg bersubsidi masih belum terpecahkan dan bahkan belum ada tanda tanda akan adanya solusi, hal ini terbukti dengan masih adanya beberapa agen nakal yag ikut "bermain". Beberapa pangkalan bahkan sudah membuka kedok permainan agen, seperti armada agen dengan alasan hujan tidak bisa mengantarkan ke pangkalan sehingga pangkalan harus mengambil sendiri ke pangkalan lain dengan tambahan biaya agkut, adanya pungutan uang untuk biaya antar dan bongkar muat oleh armada agen dan yang lebih mencengangkan adanya pangkalan "siluman" yang bebas beroperasi yang di duga bentukan dari Dinas Koperindag Merangin, sebab ada nama pangkalan yang ada di daftar koperindag tetapi pangkalan tersebut tidak ada di alamat sesuai daftar, hal ini berakibat pada kelangkaan dan mahalnya LPG bersubsidi 3 kg di Merangin Jambi. 

" Saya mengambil sendiri LPG yang di turunkan di desa lain, saya terpaksa menambah biaya angkut sehingga harga bisa lebih dari HET," jelas SL pemilik pangkalan yang ada di Renah Pamenang.

Pangkalan yang ada di Talang Kawo pun tak habis pikir setelah pangkalannya nenerima SP
" Saya tau tau mendapatkan SP, dasarnya apa, saya menjual sesuai ketentuan dan semua aturan saya ikuti, " jelas SP pemilik pangkalan yang ada di Talang Kawo Bangko ini. 

Terkait dengan berbagai temuan di lapangan bahwa ada dugaan kuat Dinas Koperindag sangat lemah dalam hal pengawasan dan pembiaran adanya permainan nakal oleh agen ataupun pangkalan nakal, Ketika hal ini di konfirmasi kepada bagian perdagangan di dinas tersebut tidak ada jawaban dan kepala Dinas pun menampik semua hal yang di tanyakan oleh media ini, " Mengenai adanya SP sampai saat ini belum menerima laporan dari pihak Pertamina, yang jelas saya juga tidak memerintahkan kalau adanya pungutan pungutan, ini semua ulah oknum, " tampik kepala Dinas Koperindag Merangin.

Selain itu ada temuan di lapangan membuktikan bahwa ada "kenakalan" dengan mengambil untung yang berimbas pada pangkalan, mulai dari agen yang menambahkan harga "antar" atau istilah pijak gas dengan angka berfariasi antara 150 ribu dan bisa lebih sampai upah bongkar yang mencapai 800 rupiah pertabung. 

" Terus terang, kami menjual di atas HET karena ada beban upah bongkar dan pijak gas, dan ada pengurangan kuota, ini tidak beralasan, ada lagi teman teman pangkalan yang langsung mendapatkan SP tanpa ada temuan atau pengawasan, agen hanya mau menang sendiri dan cari selamat, terus terang dugaan kami mengarah adanya permainan antara agen dan dinas koperindag" ungkap salah seorang pemilik pangkalan yang berinisial GS. 


Di singgung hasil temuan di lapangan, pihak pertamina bantah kalau ada permainan agen dan kalaupun ada itu hanya bagian kecil," kami sudah survei bahwa pangkalan masih menjual dengan harga HET yang 18 ribu, " jelas Reza dari Pertamina Jambi selaku Sales Bright Manager beberapa waktu lalu.

Dilain pihak sebagai anggota Lembaga Perlindungan Konsumen (LPKNI)  Deny yang aktif di berbagai kegiatan kemanusiaan ini mempermasalahkan kenapa dan ada apa di balik ini semua, dinilainya bahwa pihak Koperindag tidak becus dalam hal pengawasan dan pembinaan, pertamina hanya menerima laporan saja," kami selaku orang Lembaga Perlindungan Konsumen menanyakan ada apa selama ini, masyarakat sudah menjerit, pangkalan jadi korban ulah agen nakal dan tidak ada pengawasan, distribusi, pembagian kuota yang berkurang, pangkalan jual diatas HET karena ada beban tambahan dan agen agen nakal yang masih bermain dengan pangkalan, ini harus ada tindakan tegas, " beber Deny dengan nada kesal. 

Inilah bukti yang selama ini menjadi permasalahan yang tak kunjung usai, masyarakat juga yang menjadi korban dengan hilangnya subsidi, pangkalan juga yang menjadi tumbal dengan adanya pungutan di luar ketentuan apapun dalih dan statusnya, agen nakal juga yang mengambil keuntungan selain ketetapan, pertamina juga yang harus jeli dengan keluhan masyarakat dan Pemerintah juga yang harus tegas menindak dan mengeluarkan kebijakan bagi agen agen yang mengeruk keuntungan demi kepentingan pribadi, jangan asal memberikan SP, kalau tidak mulai sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi, masyarakat jangan di korbankan.
(tfkglobalinews)