Penyerahan Instalasi Fitted For But Not With Peralatan Sensor, Weapon and Command KRI I Gusti Ngurah Rai (GNR-332) Dari Kemenhan RI -->

Iklan Semua Halaman

Penyerahan Instalasi Fitted For But Not With Peralatan Sensor, Weapon and Command KRI I Gusti Ngurah Rai (GNR-332) Dari Kemenhan RI

Admin
Minggu, 08 November 2020


Penyerahan instalasi Fitted For But Not With (FFBNW) Peralatan Sewaco (Sensor, Weapon and Command) KRI I Gusti Ngurah Rai (GNR-332), dari Kementerian Pertahanan RI kepada TNI AL bertempat di Dok Semarang PT. PAL (Persero), Surabaya



"KRI I Gusti Ngurah Rai-332 siap dioperasikan sesuai dengan fungsi asasinya sebagai kapal kombatan," tutur Kepala Pusat Kodifikasi Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan (Puskod Baranahan) Kementerian Pertahanan Laksamana Muda TNI Yos Sumiarsa dalam keterangannya, Selasa, 3 November 2020.



Kapal yang telah menjalani proses integrasi sistem sensor dan senjata (Sewaco) ini akan dioperasikan oleh TNI Angkatan Laut atau TNI AL. Adapun KRI I Gusti Ngurah Rai-332 merupakan kapal jenis Perusak Kawal Rudal ( PKR) kedua yang dijalankan TNI AL. Sebelumnya, TNI AL telah mengoperasikan KRI Raden Eddy Martadinata-331.



Direktur Pembangunan Kapal PT PAL Indonesia Turitan Indaryo mengatakan kapal tersebut telah melalui uji coba untuk memenuhi persyaratan beroperasi. Pengerjaannya pun meliputi empat segmen, yakni persiapan, pemasangan, integrasi sistem dan pengujian, serta security awareness training (SAT) dan pengiriman.

Dengan selesainya proyek FFBNW KRI I Gusti Ngurah Rai-332, status kapal perang ini meningkat dari laik layar menjadi laik tempur.

Kapal ini digadang-gadang mampu melaksanakan tugas pokok untuk memperkuat TNI AL.
PT PAL Rampungkan Integrasi Sistem Sensor KRI I Gusti Ngurah Rai-332

Indonesia (Persero) merampungkan proses pengintegrasian sistem sensor dan senjata (Sewaco) kapal perang KRI I Gusti Ngurah Rai-332 yang dilakukan di fasilitas produksi Divisi Kapal Perang, serta langsung melaksanakan seremoni penyerahan Fitted For But Not With (FFNBW) kepada Kementerian Pertahanan.
Direktur Pembangunan Kapal PT PAL Indonesia (Persero) Turitan Indaryo di Surabaya, Selasa mengaku bersyukur, meski dalam kondisi pandemi COVID-19, PT PAL Indonesia dapat merampungkan proses pengintegrasian, serta dengan segala tantangannya proyek FFBNW PKR (Perusak Kawal Rudal) KRI I Gusti Ngurah Rai-332 dapat diserahkan setelah melalui rangkaian uji coba yang telah memenuhi persyaratan.
"PT PAL Indonesia (Persero) mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan oleh Kementerian Pertahanan RI dalam Proyek FFBNW PKR KRI I Gusti Ngurah Rai-332." kata Turitan, dalam keterangan persnya.
Fitted For But Not With (FFBNW/ sistem atau senjata yang diintegrasikan belum dipasangkan atau dipasang sebagian, pemasangan selengkapnya nanti sesuai kebutuhan).

la menjelaskan, proyek FFBNW Kapal PKR terbagi dalam empat segmen pengerjaan yaitu persiapan, pemasangan (install), integrasi sistem dan pengujian, serta SAT dan delivery.
KRI I Gusti Ngurah Rai-332 mempunyai panjang total 105,11 meter dan berat 2.365 ton, serta merupakan kapal perang kelas light fregat atau perusak kawal rudal (PKR) yang dilengkapi dengan sistem persenjataan meriam utama 76 mm, dan dipersenjatai dengan sistem rudal permukaan ke udara (SAM), sistem pertahanan diri (Close in Weapon System-CIWS) 35 mm, sistem pelontar torpedo, dan sistem rudal permukaan ke permukaan (SSM).
KRI I Gusti Ngurah Rai- 332 juga memiliki kemampuan peperangan elektronik melalui sistem Electronic Counter Measure (ECM) dan Electronic Support Measure (ESM) yang telah terintegrasikan dalam Combat Management System (CMS) yang dimiliki KRI I Gusti Ngurah Rai-332 pada HUT ke-75 TNI.

"Investasi tersebut tidak hanya berupa barang yang terlihat (tangible) seperti peralatan dan fasilitas, namun juga pada hal-hal strategis yang tak kasat mata (intangible) seperti keahlian dan penguasaan teknologi." kata Turitan, menjelaskan.
Sementara nama KRI I Gusti Ngurah Rai-332 diambil dari nama Pahlawan Nasional asal Bali I Gusti Ngurah Rai yang memimpin pasukan bernama "Ciung Wanara" melakukan pertempuran terakhir dikenal dengan nama Puputan Margarana melawan Belanda pada 20 November 1946.
Dengan nama tersebut KRI I Gusti Ngurah Rai-332 diharapkan dapat mewarisi ruh pantang menyerah serta keberanian I Gusti Ngurah Rai dalam mempertahankan wilayah NKRI.

"Dengan selesainya proyek FFBNW KRI I Gusti Ngurah Rai-332 maka statusnya meningkat dari laik layar menjadi laik tempur serta mampu melaksanakan tugas pokok yang diembannya, seperti Anti Air Warfare, Anti Surface Warfare, Electronic Warfare, Naval Gun Fire Support, serta Naval Diplomacy untuk semakin memperkuat TNI Angkatan Laut dalam menjalankan tugasnya menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia." kata Turitan.

Sementara itu, seremoni delivery FFBNW diterima Kapuskod Baranahan Kementerian Pertahanan Laksma TNI Yos Sumiarsa, yang kemudian diserahkan simbolis kepada TNI AL untuk dioperasionalkan yang diterima oleh Aslog KASAL Laksma TNI Puguh Santoso.
Acara penyerahan, dihadiri sejumlah pejabat tinggi di lingkungan Kementerian Pertahanan, Mabes TNI, Mabes TNI AL, dan Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) dengan menerapkan protokol kesehatan ketat.
KRI I Gusti Ngurah Rai- 332 merupakan kapal PKR kedua bersama KRI Raden Eddy Martadinata-331 yang dioperasikan oleh TNI AL.
Kapuskod Baranahan Kemhan Laksma TNI Yos Sumiarsa dalam sambutannya menyebut bahwa dengan selesainya proyek FFBNW, KRI I Gusti Ngurah Rai-332 siap dioperasikan sesuai dengan fungsi asasinya sebagai kapal kombatan.
Pada kesempatan yang sama Aslog KASAL Laksma TNI Puguh Santoso mengatakan, proyek FFBNW PKR KRI I Gusti Ngurah Rai-332 merupakan implementasi dari program kebangkitan industri pertahanan dalam negeri.
"Proyek FFBNW PKR KRI I Gusti Ngurah Rai- 332 adalah salah satu upaya Kementerian Pertahanan RI dalam menyelaraskan MEF guna mempercepat pembangunan kekuatan pokok komponen pertahanan menuju postur TNI AL," katanya.

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal), Laksamana Pertama (Laksma) TNI Gig Jonias Mozes Sipasulta menambahkan KRI I Gusti Ngurah Rai merupakan KRI termuda, termutakhir, sekaligus terlengkap dari sisi sistem persenjataan.

Kapal ini merupakan adik dari KRI Martadinata yang juga dibangun di galangan kapal dalam negeri PT PAL Indonesia.

"KRI I Gusti Ngurah Rai adalah kapal rudal berhelikopter.

Jadi, ini adalah kapal terlengkap dan terbaik setelah KRI Martadinata yang menunjukkan kemampuan negara mendukung militer," katanya terpisah.

Kapal jenis Ship Integrated Geometrical Modulary Approach (SIGMA) ini memiliki spesifikasi panjang 105,11 meter, lebar 14,02 meter, draft termasuk sonar 5,73 meter, sementara bobot penuhnya 3.216 ton.

Senjata Canggih Kapal I Gusti Ngurah Rai
Ilustrasi kapal perang Iran Perbesar
Ilustrasi kapal perang Iran (AP)
Adapun persenjataan yang dimiliki KRI I Gusti Ngurah Rai-332 antara lain meriam utama OTO Melara 76/62 milimeter super rapid gun, rudal SSM Exocet MM40 Block 3 yang jarak jangkauannya bisa sejauh 180-200 kilometer.

Selain itu juga memiliki rudal SAM AntibSerangan Udara Mica yang dirancang bisa dioperasikan dalam waktu singkat di segala cuaca, serta memiliki jangkauan 20-25 kilometer dan dilengkapi dengan Terma SKWS Decoy Launching System.

KRI I Gusti Ngurah Rai-332 memiliki sistem persenjataan lainnya yakni, torpedo AKS A-244S yang merupakan torpedo jenis ringan berpandu. Kemampuan torpedo ini khusus untuk mengincar sasaran di perairan laut dangkal.

Selain itu Meriam Close In Weapon System (CIWS) Millenium Gun 35 milimeter yang berfungsi menangkis serangan udara dan ancaman permukaan jarak dekat.

KRI ini juga memiliki mode siluman atau stealth agar tak mudah terdeteksi.

🇮🇩🇮🇩🇮🇩🙏🏻🤝🙏🏻🇮🇩🇮🇩🇮🇩